Rabu, 05 Desember 2012

Lidah Yang Tajam


Lidah Yang Tajam

Bao Panigoran
Pertama kali diterbitkan di facebook tanggal 1 September 2010
Yakobus 1 : 26
Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri,maka sia-sialah ibadahnya.

Ada banyak dimensi dalam kehidupan kekristenan . Ada kepastian keselamatan, kekudusan hidup, iman yang memindahkan gunung, karunia-karunia Roh, penyertaan Tuhan, berkat dan janji-janji Allah, tetapi yang tak kalah penting, bahkan mungkin yang terpenting, adalah perubahan karakter.

Saya kurang tahu ada berapa puluh persen Alkitab berbicara tentang perubahan karakter, tetapi setiap saya membaca, terlebih surat-surat para rasul, nyaris seluruh tema-temanya berbicara tentang hal itu. Jadi perubahan karakter, dari yang buruk menjadi karakter manusia baru, adalah indikator terbesar untuk menilai seberapa benar saudara telah lahir baru.

Karakter ditampilkan oleh lidah dan gerak gerik (bahasa tubuh), tetapi paling dominan adalah oleh lidah.

Dan saya merasa, oh saya yakin, salah satu yang paling mengecewakan Yesus dari gerejaNya di Indonesia adalah lidah yang sangat pedas dan tajam, bukan hanya di kalangan jemaat biasa, tapi bahkan di komunitas hamba-hamba Tuhan. Terlalu banyak. Sungguh, kita di Indonesia terlalu mengecewakan Bapa!

Suatu sore saya menghadiri acara natal kaum ibu di sebuah gereja lokal. Pendetanya cukup terkenal di kota kami. Sebagai tuan rumah yang baik, tentu ia tidak ingin hadirin merasa tidak nyaman, sebab natal kali ini dihadiri utusan kaum ibu dari banyak gereja sekota.Tak seperti yang diharapkan, ternyata listrik mati hanya belasan menit setelah acara dimulai. Lampu, kipas angin, AC dan sound system mati semua. Ruangan yang sesak menjadi gerah, berisik, dan tidak hikmat lagi. Hadirin sibuk berkipas-kipas, gelisah. Acara selanjutnya hanya diterangi lilin. Kebetulan saya berdiri di dekat pendeta tuan rumah itu, yang memakai jas natal yang mahal dan anggun, dekat teras gereja. Ia sangat gusar, tak henti-henti mengomel dan menggerutu, dengan kata-kata kasar, mengata-ngatai PLN, bahkan merembet ke seluruh sistem di negara ini, habis ia kata-katai. Rupanya mereka tidak mempersiapkan genset karena telah membayar sejumlah uang kepada orang dalam PLN yang menjamin bahwa listrik di sekitar gereja itu tidak akan dipadamkan. Pedas sekali umpatannya itu sampai saya tak tahan mendengarnya. Dia pendeta yang cukup berpengaruh disini.

Ada lagi seorang pelayan yang sangat berpengaruh di gerejanya, biasa melayani sebagai worship leader yang menyala-nyala. Di gereja setiap hari minggu, ia salah seorang yang paling banyak menerima jabat tangan dan angguk hormat dari jemaat. Tapi di lingkungan tetangganya, ia memiliki reputasi yang sangat buruk. Semua tetangga muak kepadanya. Dia terkenal judes, fanatik, gemar men-ciih!-kan tetangga-tetangganya yang belum lahir baru. Ia ogah terlibat dalam pergaulan sosial sekitar rumah, sepertinya mereka semua najis di matanya. Ia sangat tidak ramah. Lidahnya tajam, keras, pedas. Ia dikenal angkuh, semua orang tidak nyaman bertetangga dengannya.

Di tempat lain, ada seorang pendeta yang suka tertawa sinis, puas, dengan nada menghina, ketika salah seorang pendeta yang dihitungnya sebagai saingan, mengalami masalah.

Di tempat lain lagi ada seorang hamba Tuhan yang pandai berkotbah, tetapi dalam hidup sehari-hari lidahnya mudah menghamburkan kata-kata pedas yang menyakiti perasaan teman bicaranya.

Di tempat lain lagi ada pemimpin kaum muda gereja yang memimpin dengan arogan, lidah judes, suka memerintah, suka berteriak, suka membentak, cerewet, dan orang-orang muda binaannya sering gugup dan takut bicara dengannya.

Di tempat terpisah saya melihat pelayan-pelayan gereja sedang berkumpul bercanda. Mereka tertawa-tawa, tetapi yang mereka bicarakan adalah pendetanya, istri pendetanya, atau jemaat tertentu, dengan suasana melecehkan, seolah yang dibicarakan itu badut konyol. Terkadang mereka juga saling melempar joke porno, dan sama-sama terbahak-bahak. Ketika ibadah minggu berlangsung, mereka begitu tampak kudus di panggung gereja. Luar biasa!

Belasan kali, bahkan sering kali, saya berdiri dekat-dekat hamba-hamba Tuhan besar, terhormat dan terpandang, dipuji-puji jemaat, berbalutkan jas mahal dan tubuh wangi, tapi tiba gilirannya, mereka dengan mudah mengumpat, memaki, menuding, menyerang, mengintimidasi, menggerutu, mengomel-ngomel dengan lidah yang pedas dan tajam. Luar biasa!

Belum termasuk isitri-istri atau anak-anak pendeta yang arogan, bertingkahlaku bak bangsawan yang harus disanjung, berlidah pedas dan sinis.

Belum termasuk para gembala yang gemar berkotbah dengan membentak-bentak jemaat, menelanjangi dosa mereka di muka umum, dengan menyebut nama ataupun mengarahkan ke nama tertentu, dari atas mimbar.

Apakah ada di antara saudara seperti itu? Ataukah saudara pernah melihat hal-hal yang sama di kota anda? Jika saudara melihat juga, mari mulai sekarang kita harus menangis, sebab fakta itu ada di seluruh gereja se-Indonesia, mulai Sabang sampai Merauke, mulai dari Jakarta sampai daerah terpencil.

Bapa kita tidak puas dengan gerejaNya di negeri ini. Dari atas tahtaNya di surga, Ia memandang dengan wajah muram ke arah bangsa kita. Tentu saja saya tidak mengatakan semuanya begitu. Tetapi amat banyak kita temukan Farisi di dalam gereja.

Saudaraku. Dengan sungguh saya memohon, perhatikanlah dengan cermat bagaimana engkau hidup. Koreksilah hatimu terus menerus, koreksi dan koreksi. Kekang dan kekanglah lidahmu dengan keras. Jikapun engkau harus menjadi pendiam, itu lebih baik daripada menghamburkan kata-kata pedas. Jika tidak, ibadahmu, jasa-jasamu, semua akan sia-sia!

Jangan hitung jasa-jasamu, saudara. Mungkin kita telah menyumbang ratusan juta setiap tahun ke gereja. Mungkin kita memiliki riwayat perjalanan keliling Indonesia demi Injil yang mengagumkan. Mungkin ada ribuan jiwa yang telah kita pertobatkan. Mungkin ada begitu banyak buku rohani, artikel renungan, lagu-lagu rohani, dan sebagainya yang telah kita hasilkan dan semua itu memberkati ribuan bahkan jutaan anak-anak Tuhan di seluruh Indonesia. Mungkin tak terbilang jumlah fakir miskin yang telah kita sumbang. Mungkin terdapat daftar mukzizat kesembuhan yang begitu banyak yang telah terjadi selama pelayanan kita. Mungkin kita adalah pembicara seminar rohani yang telah berkeliling dunia. Mungkin ada lagi jasa ini dan jasa itu yang telah kita persembahkan bagi Kerajaan Allah. Tapi semua itu tidak berguna bagi kita jika Allah menemukan hati kita hati yang berbisa. Ketika kita menutup mata, kita akan terpukul karena ternyata Yesus menutup pintu dan mengusir kita: “Enyahlah hai pembuat kejahatan! Aku tidak mengenalmu!” Dan saat itu kita akan sangat tak percaya, dan menggeleng-geleng dengan hati getir: “Yesus, bukankah selama ini Engkau yang telah mengurapi pelayananku? Bukankah selama ini suaraMu yang membimbing aku? Bukankah aku telah menerima berkat-berkat materi yang berkelimpahan dariMu? Bukankah selama hidupku akau telah menciptakan banyak lagu rohani yang memuji namaMu? Bukankah telah begitu banyak buku maupun tulisan yang kubuat dan itu memberkati ribuan orang? Bukankah oleh kuasaMu melalui tanganku, ada begitu banyak mukzizat kesembuhan yang terjadi dalam pelayananku? Bukankah aku telah menyumbangkan begitu banyak uang guna kerajaanMu? Bukankah begini bukankah begitu?”Tetapi Tuhan akan menjawab. “Ketika Aku haus dan meminta air, engkau memaki Aku. Ketika Aku bersalah dan telah minta maaf padamu, engkau mengutuki Aku. Ketika Aku lapar dan telanjang, engkau mentertawakan aku sebagai orang yang dikutuk Tuhan. Ketika Aku dilanda musibah, engkau mengejek-ejek Aku. Ketika Aku miskin, engkau menghina Aku bukan anak Tuhan. Ketika Aku tidak menyenangkan egomu, engkau mengata-ngatai Aku, memaki Aku dan menghamburkan kata-kata kejam padaKu.”

Saudaraku dalam Tuhan. Mari kita hidup bagi Bapa. Selamilah hati Bapa. Ia sangat mengasihi semua orang, baik saudara kita, maupun mereka yang belum selamat. Dan Ia ingin kasihNya itu terpancar melalui kita. Allah sangat berharap banyak pada kita. Ia telah menebus kita dari kegelapan agar kita menjadi terang bagi kegelapan itu. Ia sangat ingin kita sadar bahwa kita ini adalah utusan-utusanNya, untuk memberitahu dunia akan cintaNya yang besar itu. Bapa ingin kita berbuah dalam kasih. Dia ingin kita hidup dengan mengenakan karakter Yesus, manusia baru kita.

Kasih itu mengampuni. Kasih itu sabar. Kasih itu rendah hati. Kasih itu penuh pengertian terhadap kelemahan orang lain. Kasih itu tidak melukai perasaan orang lain. Kasih itu mengalah. Kasih itu lemah lembut. Kasih itu mendorong semangat. Kasih itu menghibur. Kasih itu menguatkan yang lemah.

Berkat adalah fasilitas. Karunia Roh adalah fasilitas. Otoritas kuasa adalah fasilitas. Pekerjaan, jabatan, kekayaan, adalah fasilitas. Kesehatan adalah fasilitas. Fasilitas-fasilitas untuk mempermudah kita mengerjakan tugas dinas kita. Apakah tugas dinas kita sebagai utsan-utusan sorga? Menjadi terang, menjadi garam, menjangkau jiwa.Dengan terus mengingat bahwa kita adalah utusan-utusan dari surga, maka kita akan mampu membebaskan diri dari segala ikatan yang ada di dunia ini. Kita diutus untuk memancarkan kasih Bapa yang telah ditaruh di hati kita kepada setiap orang di dunia ini, tanpa pandang bulu.

Kita menjadi garam melalui keterlibatan sosial kita. Kita menjadi terang melalui karakter kita. Dan semua itu harus berasal dari hati yang murni dan lembut, hati yang berserah penuh kepada Bapa. Dan melalui hati yang tunduk pada kehendak Bapa, yaitu untuk hidup dalam prinsip-prinsip kasih, kita akan memancarkan buah-buah Roh melalui lidah kita. Lidah kita menjadi bukti paling otentik benarkah kita hidup dalam ajaran kasih Bapa atau tidak. Jika tidak, ranting-ranting yang tidak berbuah itu akan dipangkas juga dan dibuang ke dalam api. 

Terang Itu Berpengaruh


Terang Itu Berpengaruh

Bao Panigoran
Pertama kali diterbitkan di facebook tanggal 5 Agustus 2010
Matius 5 : 16
Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.

Suatu malam di bulan Juli 2010 ini, menjelang tengah malam, saya sedang berdoa sendirian di ruang tengah yang sunyi dan sengaja saya matikan lampu. Saya sedang meminta Bapa menerangi hati saya tentang banyak hal, agar saya semakin mnegerti isi hatiNya, dan yang paling saya mintakan malam itu ialah penjelasanNya mengenai arti dan definisi : kita sebagai terang dunia. Di antara derasnya kata-kata yang saya panjatkan ke Tahta Bapa, tiba-tiba Roh berbicara di hati saya dengan kalimat pendek : “Nak, terang itu berpengaruh.”

Saya segera merenungkannya dan membagikannya disini kepada saudara.

Pertama, janganlah kiranya saudara lupa bahwa engkau ini benar anak Allah, tetapi pertajamlah kesadaranmu dengan kedudukanmu itu, sebab itulah jati dirimu yang sebenarnya.

Sebagai anak-anak Allah, kita hidup di bumi ini sebagai utusan-utusan Yesus untuk meneruskan misiNya.Yaitu untuk menerangi dunia ini, mengajarkan Allah yang benar supaya manusia boleh mengenalNya, serta untuk menyelamatkan sebanyak-banyaknya jiwa bagi Kerajaan Bapa. Yesus telah kembali ke surga, dan tugas-tugas itu dibebankan kepada kita sampai akhir zaman. Tetapi Ia tidak pernah meninggalkan kita sebatang kara. Ia mengirimkan RohNya sendiri untuk menemani kita masing-masing, sehingga pada setiap anak-anak Allah terdapat Roh Kudus.

Jadi engkau adalah anak Allah, berasal darimana Yesus berasal, dan engkau ada disini sekarang adalah untuk tujuan-tujuan Bapa. Lantas mengapa engkau hanyut dengan dunia ini? Mengapa hidupmu tidak berbeda dengan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan? Mereka kecanduan rokok, mengapa engkau ikut kecanduan rokok? Mereka kecanduan alkohol, narkoba dan berbagai-bagai kecanduan daging lainnya,mengapa engkau ikut-ikut kecanduan?

Orang-orang dunia ini hidup dalam berbagai-bagai kesesatan, kebiasaan-kebiasaan kotor yang kita sebut rupa-rupa kedagingan. Banyak di antara mereka tidak bisa melepaskan diri dari kecanduan daging. Selain rokok, narkoba, alkohol, kecanduan-kecanduan lainnya yang mengikat mereka misalnya kecanduan cabul, kecanduan hiburan-hiburan tertentu yang tidak kudus, kecanduan menipu, berdusta, mencuri, berjudi, bergossip, dan lain-lain. Kecanduan artinya terikat. Jika ada naluri-naluri yang mendorong-dorong kita segera mengerjakan lagi kebiasaan buruk itu, itulah namanya kecanduan. Orang-orang yang kecanduan artinya dia terikat. Tidak soal dia terikat hal yang bahayanya besar seperti narkoba atau seks bebas, bahkan terikat pada hal yang bahayanya sedikit seperti rokok atau bergossip, sama-sama disebut terikat. Dan setiap yang terikat disebut orang-orang yang tertawan, ditawan oleh daging maupun setan. Sebenarnya ketika anda menerima Yesus, Ia juga telah mengulurkan tanganNya untuk membebaskan anda dari segala ikatan, sebab Ia datang untuk membebaskan para tawanan. Tetapi seringkali kita berkata: “Tuhan, terimakasih, tapi aku sudah terbiasa dengan ikatan ini dan ikatan ini enak. Jadi biarlah aku mengikut Engkau dengan keadaan terus terikat begini.” Saudara, jika engkau tidak mau dibebaskan dari segala ikatan itu, berapa banyak pekerjaan yang bisa kau kerjakan bagi Tuhan dengan berhasil?

Mungkin engkau melayani di gereja, bahkan mungkin menjadi seorang pendeta, tapi engkau melayani dengan terikat pada sesuatu kecanduan. Dan di waktu-waktu tertentu, engkau heran mengapa pelayananmu tidak bisa mengubah jemaatmu. Engkau sudah mengerahkan seluruh daya, tapi tetap saja jemaatmu hidup dalam kemalasan rohani dan keboborokan moralitas. Mereka hanya datang ke gereja pada saat hari natal atau perayaan lainnya. Lantas engkau mulai menyalahkan ini dan itu, tetapi tidak pernah sadar bahwa ikatanmu pada kedagingan itu lah yang menjadi salah satu penyebabnya. Barangsiapa pelayan Tuhan yang terikat, bahkan sekedar pada rokok, ia sedang melayani Kristus dengan tangan roh yang terikat, dan meski seluruh tenaganya telah terkuras, pelayanannya tidak akan pernah berdampak besar bagi orang lain. Jadi saudara perlu bertobat dari segala keterikatan terhadap apa saja. Yesus pernah berkata: “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku “ (Lukas 14 : 33). Bayangkan, bukan sekedar terlepas dari segala ikatan kedagingan, bahkan kita harus melepaskan diri dari segala milik kita, jika kita mau menjadi seorang pengikut Kristus.

Saudaraku, setelah kita terbebas dari segala kedagingan dan keterikatan pada segala milik kita, kita akan memiliki kesegaran rohani yang maksimal, rasanya mirip seperti mandi air sungai gunung yang segar dan jernih di tengah teriknya matahari, dan Roh Kudus dapat bekerja secara maksimal pula melalui kita. Karunia-karunia roh yang kita perlukan dalam melayani dapat kita terima tanpa hambatan. Dalam keadaan seperti itu, kita akan bercahaya dan dapat menjadi terang yang gemerlap.

Terang itu berpengaruh. Apa maksudnya?

Mungkin kita sering mencoba memenangkan seorang sahabat atau familinya dengan Injil. Tetapi kita menginjili dengan nada menghakimi, sehingga orang itu bukannya bertobat malah jadi jengkel pada kita dan memandang kita angkuh atau munafik. Itu artinya, kita gagal memberi pengaruh yang baik baginya. Kita belum nejadi terang baginya!

Mungkin ada yang mencoba menghibur orang yang kermalangan dengan firman Tuhan, tapi kata-katanya lebih banyak menyudutkan daripada menenangkan, sehingga kita justru melukai perasaan orang malang itu. Dalam hal ini pun, kita belum menjadi terang baginya. Menjadi terang tidak harus berkotbah pada orang. Ribuan kalipun kita berkotbah pada seseorang, tapi jika ia masih menyimpan kepahitan atau sakit hati pada kita oleh karena satu atau beberapa perbuatan kita di waktu lalu, kita tidak menjadi terang, malah memberinya rasa jijik melihat pada kita.

Menjadi terang artinya memberi pengaruh yang baik pada setiap orang yang mengenal kita. Jika ada seseorang yang menyimpan kepahitan pada kita, datanglah padanya pada waktu yang tepat, salami dia dan mintalah maaf atas segala salahmu. Seketika itu, ia akan terpesona di dalam hatinya. Mungkin ia tidak serta merta menerima mohon maafmu itu, tapi engkau telah menanamkan pengaruh yang baik baginya dan itu akan terus membuatnya terpesona, sampai engkau tahu pada waktunya bahwa ia mulai menghormati dan segan padamu.

Menjadi terang adalah menjadi contoh bagi setiap orang di sekitarmu. Mungkin engkau pegawai kantor, maka jadilah contoh yang baik dalam segala hal, baik itu disiplin kerja, keramahan, kata-kata yang nyaman dan damai, sikap yang bersahabat dengan semuanya, loyalitas pada pimpinan, dan sebagainya. Ketika sesama pegawai lagi ngumpul, biasanya selalu ada yang memulai untuk mengatai-ngatai pimpinan. Tetapi sebagai terang, engkau harus menunjukkan bahwa mengatai-ngatai pimpinan di belakang pintu itu tidak baik. Tetapi dalam hal menyampaikan hal itupun, engkau harus menjaga pula bahwa teman-temanmu terpengaruh pada perkataanmu, bukannya menjadi menganggapmu penjilat. Jadi engkaupun harus pandai berbicara dengan lemah lembut pada siapa saja.

Menjadi terang adalah berani menunjukkan perubahan kita dalam menanggapi curhat orang lain. Jika ada orang yang curhat padamu, setelah ia puas berkeluh kesah, beranikanlah dirimu menggenggam tangannya dan mengajaknya berdoa. Berdoa pendek saja kira-kira seperti ini: “Tuhanku Yesus, Engkau juga sudah mendengar keluh kesah sahabatku ini. Mari tolonglah dia dan berkatilah hidupnya, agar ia boleh keluar dari masalah itu. Dalam nama Yesus. Amen”. Percayalah, jika engkau berani berdoa, ia akan sangat terpengaruh oleh perbuatanmu itu. Mungkin saja suatu saat ia akan datang lagi bertanya padamu lebih dalam tentang Yesus, dan pada saat itu engkau dapat bersaksi tentang Juruselamatmu yang sangat englkau cintai itu.

Menjadi terang adalah berani memaafkan sebelum orang yang bersalah itu minta maaf. Datangi dia dan tersenyumlah padanya, dan katakan: “Itu nggak apa-apa kok, saya nggak marah, tenang saja.” Itu juga akan mempengaruhi dia.

Menjadi terang adalah memberi pengaruh yang baik. Usahakanlah kehadiranmu membuat suasana panas menjadi damai kembali. Suasana yang dicekam kekawatiran dan ketakutan menjadi tenang kembali. Suasana kalut dan panik menjadi lega kembali. Suasana suntuk menjadi segar kembali.

Menjadi terang adalah memiliki kepribadian yang dipenuhi buah-buah Roh, yaitu pribadi yang penuh kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kesetiaan, pengusaan diri, baik, jujur, tenang, sopan, lemah lembut, rendah hati, pengertian, pemaaf, bersahabat, tidak sombong, tidak ngotot menguasai pembicaraan, tidak bergossip, memberkati, tidak mengumbar-umbar kesalahan atau dosa atau aib orang lain, murah hati, empatik, ramah pada semua orang, lidah yang penuh dengan kelembutan hati, dan karakter-karakter lainnya yang berasal dari hati surgawi.

Jika engkau telah dapat menjadi terang, sesungguhnya engkau telah menjadi Injil yang hidup, tanpa harus selalu berkotbah mengenai Alkitab. Jika telah menjadi terang, maka besar kemungkinan orang-orang itu akan mau mendengar ketika kita memutuskan untuk mulai menceritakan Yesus dan Firman Tuhan kepadanya. Menjadi terang adalah membuka jalan untuk melaksanakan tugas kita lainnya, yakni bersaksi tentang Yesus Kristus sebagai satu-satunya Jalan dan Kebenaran dan Hidup, membawa jiwa sebanyak-banyaknya bagi Bapa kita.

Jadilah terang, yaitu dengan memberi pengaruh yang baik di dalam setiap lingkungan dimana engkau ikut dan terlibat. Dengan demikian, engkau menunjukkan pada dunia, bahwa engkau benar-benar anak Raja segala raja. Haleluyah!

Kita Itu Mahasiswa KKN



Kita Itu Mahasiswa KKN

Bao Panigoran
Pertama sekali diterbitkan di facebook tanggal 21 Juli 2010
Saudara dalam Yesus Kristus


Sebagai anak-anak Allah, kita ada di dunia ini adalah untuk menjalankan tugas. Sesungguhnya setiap orang kristen sedang "tugas lapangan" atau "tugas luar kota". Dahulu, setiap mahasiswa yang akan menyelesaikan studi, wajib mengikuti KKN (Kuliah Kerja Nyata) ke desa-desa. Dan kita ini adalah mahasiswa-mahasiswa dari sorga yang sedang KKN di dunia. Kita yang berasal dari sorga, sekarang sedang tidak ada di sorga, melainkan sedang berada di lapangan, itulah dunia ini.



Sedihnya, sebagian besar dari kita justru terlalu larut dengan suasana di "lapangan", sehingga tidak jelas lagi kita ini pribumi atau mahasiswa KKN; kita ini orang dunia atau orang sorga. Sebagaimana orang-orang dunia bertujuan, demikianlah tujuan kita. Sebagaimana mereka hidup dalam kebiasaan-kebiasaan yang salah, demikianlah kebiasaan-kebiasaan kita juga, padahal tujuan kita diutus KKN justru untuk mengubah banyak hal termasuk kebiasaan-kebiasaan buruk mereka. Dalam bahasa buku pedoman KKN kita, Alkitab, kebiasaan-kebiasaan buruk itu disebut kebiasaan-kebiasaan yang tidak kudus. Kecanduan rokok, alkohol, narkoba, pornografi, gaya bicara yang bersumpah serapah, tindakan-tindakan curang, dan sebagainya, itulah kebiasaan-kebiasaan "orang desa" yang harus kita terangi. Tapi ada berapa banyak dari kita yang turut ambil bagian dari kebiasaan-kebiasaan buruk itu? Bukan kita, mahasiswa dari sorga, yang berhasil menerangi orang-orang desa (dunia), tapi merekalah yang berhasil menggelapkan kita....



Saudaraku, bangkitlah sejak hari ini. Sadarilah bahwa engkau itu bukan pribumi desa ini, tapi mahasiswa-mahasiswa dari sorga yang sedang KKN di desa ini. Kita memang mengerjakan apa yang mereka kerjakan. Sebagaimana mereka pergi ke sawah, kitapun turut pergi ke sawah, supaya kita tidak menjadi mahasiswa yang hanya tahu teori. Kesusahan-kesusahan yang mereka miliki, boleh jadi turut pula kita alami. Di desa mereka tidak ada bioskop, tidak ada internet atau rumah sakit. Mereka tidak pernah menikmati itu, demikian juga kita tidak mungkin menkmati semua itu selama di desa tersebut. Ya, mungkin krisis yang melanda desa bernama "dunia" ini, termasuk krisis ekonomi, krisis politik, dan berbagai-bagai kesusahan lainnya, turut juga kita alami, karena baik "pribumi desa" maupun kita "mahasiswa KKN" sama-sama tinggal di desa ini.



Tetapi asal-usullah yang membedakan kita dengan mereka. Kita diutus ke desa ini oleh Allah karena desa ini perlu dituntun agar keluar dari segala kegelapan. Kita diutus, sebagai mahasiswa KKN dari sorga, untuk menerangi dunia ini. Kita datang untuk membangun mereka, memberi mereka penyuluhan-penyuluhan, penerangan-penerangan, pikiran-pikiran yang baru, semangat hidup yang baru, kebiasaan-kebiasaan hidup yang baru. Sungguh, kita diutus ke dunia ini untuk meneranginya, bukan malah digelapkan olehnya.

Setan Lari Terbirit-birit oleh Nama Yesus!



Setan Lari Terbirit-birit oleh Nama Yesus!

Bao Panigoran
Pertama kali diterbikan di facebook tanggal 5 Agustus 2010
Syalom saudaraku dalam Yesus,


Percayalah kepada Yesus, bahwa Ia sanggup mengatasi apa saja yang kita alami. Ia bahkan telah mengalahkan si iblis, sehingga di dalam Dia kita dapat menginjak-injak iblis dan tentara setan-setannya.



Kemarin, 4 Agustus 2010 sekitar jam 10 pagi, ketika kami sedang ngobrol-ngobrol di gereja, seorang ibu bernama R. br Situmeang, datang dan segera menghambur ke kaki seorang wanita teman kami, menangis tersedu-sedu minta ampun pada Yesus. Seseorang bernama Ibu Galingging, tetangga Ibu Situmeang yang menemani kedatangan ibu tersebut cerita bahwa ibu Situmeang ini sejak dari rumah sudah diserang dan dikuasai oleh roh jahat, dan berkali-kali roh jahat itu bermanifestasi (kesurupan), membanting tubuhnya kesana kemari.



Ibu Situmeang ini terus menangis minta ampun, dan akhirnya roh jahat yang di dalam dirinya itu terganggu dan bermanifestasi. Roh itu membanting tubuh perempuan itu, dan berusaha menyakitinya. Roh itu juga menguasi pikiran wanita itu berbicara ngalor ngidul kepada kami. Kira-kira roh itu berbicara bahwa perempuan itu (Ibu Situmeang) bodoh, yang mau bertobat katanya tapi main-main, jadi dia (si setan) yang sudah lama tinggal di dalam wanita itu jadi marah dan mau membunuhnya saja.



Bersama seorang saudari, saya menghardik setan itu supaya diam dan jangan banyak bicara, di dalam nama Yesus. Kami menyuruhnya diam dan keluar. Setan itu tidak mau, ia berteriak-teriak kepanasan karena nama Yesus yang terus kami serukan, tetapi ia berusaha bertahan karena menganggap berhak atas perempuan itu. Setan itu justru berusaha mencakar-cakar wajah serta mencekik leher ibu Situmenag yang ditungganginya, sambil menggelapar-gelepar kepanasan. Rekan saya terus meniupkan nama Yesus ke telinga Ibu Situmeang, dan saya mengikat setan itu sebentar. Setelah setan itu terikat, kesadaran Ibu Situmeang pulih, dan ia menangis lagi tersedu-sedu lagi, minta ampun sama Yesus.



Tiba-tiba di hati saya Roh berbicara: "Yesus telah mengampuninya dan telah mati bagi dosa-dosanya". Saya lihat ibu ini sebelumnya pasti telah dituduh-tuduh dan diintimidasi oleh setan, seolah-olah tidak benar bahwa Yesus telah mengampuninya. Setelah ia dikalahkan oleh intimidasi itu, setan menguasainya kembali. Hal itu saya katakan pada ibu Situmeang. "Ibu, dengarlah. Jika engkau memang sungguh-sungguh bertobat, Tuhan Yesus sudah mengampunimu, sebab Ia telah mati bagimu."



Seketika roh itu keluar terbirit-birit dan ibu Situmeang menarik nafas lega beberapa kali. Yesus benar-benar telah meniupkan damai sejahtera kepadanya sehingga wajahnya kembali bercahaya dan ia benar-benar lega. Seperti yang selalu dipesankan Yesus kepada orang-orang yang disembuhkan dan diampuniNya dalam Injil, pesan itu saya katakan juga pada Ibu Situmeang. :"Ibu jangan berbuat dosa lagi ya" Sebab dosa adalah pintu masuk bagi setan.



Saudaraku dalam Yesus, satu-satunya yang mau saya ceritakan adalah percayalah pada Yesus. Setan-setan dan seluruh kerajaan si jahat sudah dikalahkan. Jangan takut sedikitpun oleh suasana horor yang dibuatnya. Itu hanyalah triknya untuk menakut-nakuti kita, sebab sesungguhnya ia sendirilah yang takut pada anak-anak Allah. Jika engkau benar yakin bahwa engkau anak Yesus, setan takut padamu, sebab Roh Yesus ada padamu. Jangan berpikir bahwa Roh Yesus hanya ada pada pendeta atau penatua gereja. Itu cara setan mengintimidasi kita, sehingga kita menganggap diri kita tidak layak ditinggali oleh Roh Kudus. Saya sendiri hanya seorang pegawai rendahan di kantor Pemda yang kebetulan menjadi jemaat di gereja kami. Tapi saya tahu, sebab Injil yang berkata, bahwa Roh Yesus (Roh Kudus atau Roh Allah) ada juga pada saya, juga ada pada saudara.



Roma 7 : 14
Semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah



Dan karenanya, anda adalah pemenang, ditentukan menjadi pemenang atas segala persoalan dan menang atas tipu daya si iblis. Haleluyah!

Menang Mengalahkan Kedagingan


Menang Mengalahkan Kedagingan

Bao Panigoran
Pertama kali diterbitkan di facebook tanggal 19 Juli 2010
Manusia lama kita sebenarnya tidak pernah lenyap, karena ia menyatu dengan tubuh kita. Dia akan tetap ada sepanjang usia kita tinggal di dalam jasad yang kita tempati sekarang. Ia seperti kanker yang telah dilumpuhkan oleh pertobatan kita, tetapi setiap saat roh kita lemah ia akan berupaya untuk mekar kembali di dalam kita. Itulah sebabnya dikatakan bahwa kita harus berperang melawan daging setiap hari.


Jangan mengira bahwa orang yang kemarin dan hari ini telah menjadi hamba Tuhan yang penuh urapan, tidak dapat jatuh lagi ke dalam dosa di esok hari. Keadaan-keadaan sekitar yang berubah setiap saat boleh jadi akan memancing manusia lamanya kembali kambuh. Ketika saya berkumpul dengan teman-teman lama yang berasal dari jaman keberandalan saya, ada panggilan hasrat dari manusia lama saya untuk mengulangi kembali kenangan-kenangan lama: "bukankah itu lucu? Bukankah itu seru?"

Ingatlah akan Salomo. Hamba Allah sebesar dia akhirnya jatuh juga di hari tuanya. Ingat pula akan seorang hamba Tuhan dari Amerika, yang reputasi pelayanannya sudah masyur ke seluruh dunia, ternyata masih dapat jatuh lagi pada dosa homoseksual. Orang-orang yang tidak mengerti akan terguncang oleh berita-berita kejatuhan seperti itu, dan membuat mereka lemah dan tawar hati. Tapi artikel ini saya tuliskan kepada anda supaya anda boleh mengerti, sehingga tidak perlu terguncng lagi. Sungguh, setiap dari kita yakni anak-anak Allah, tua muda, besar kecil, terkenal atau tidak, pendeta atau jemaat biasa, harus berperang setiap hari melawan nafsu-nafsu rendah yang tertanam di dalam manusia lama kita.

Anak Tuhan yang dahulu hidup sebagai pencuri, lebih mudah tergoda untuk jatuh ke dalam dosa mencuri. Sebab ia tahu trik-trik mencuri yang efektif dan efisien dan nalurinya telah terlatih untuk tahu mana kesempatan yang sangat baik untuk melakukannya. Jadi ia harus terus melawan panggilan-panggilan manusia lamanya itu.

Seorang anak Tuhan yang dulu pecandu narkoba atau rokok, lebih mudah tergoda untuk mengkonsumsinya kembali daripada mereka yang tidak memiliki rekaman sebagai pecandu. Saya adalah mantan pecandu rokok. Jadi ketika di hadapan saya ada seorang sedang menikmati rokok begitu asyiknya, godaan kepada saya lebih kuat daripada mereka yang dahulu bukan seorang perokok.

Anak Tuhan yang dahulunya hidup dalam kecabulan, lebih cepat dihinggapi pikiran-pikiran cabul ketika lingkungan sekitarnya menunjang untuk itu. Jika anda adalah mantan penikmat video-video porno, katakanlah dahulu anda penggemar Miyabi, godaan yang anda rasakan akan lebih kuat saat ada berita Miyabi mengeluarkan video baru lagi daripada mereka yang tidak pernah menjadi pecandu pornografi, meskipun anda sekarang pendeta dan mereka hanya jemaat anda.

Demikianlah tiap orang memiliki warna manusia lama yang berbeda-beda, tergantung dari jenis dosa yang dahulu menjadi obsesi atau kegemaran mereka.

Jadi sekarang, jika ada saudara kita yang jatuh dalam dosa tertentu, cobalah untuk mengerti kelemahan manusiawinya, sehingga kita bukannya terdorong untuk menghukuminya dengan tatapan jijik kita. Mengapa? Sebab setiap anak Tuhan yang jatuh dalam dosa, ia akan mengalami penyesalan yang hebat, yang jika kita tambah-tambahi dengan kesinisan kita dapat membuat ia didorong iblis untuk melakukan tindakan-tindakan nekad. Mari kita bersikap seperti Yesus. Tuhan Yesus yang maha kudus itu tidak akan meninggalkan dia, melainkan tetap memanggil namanya untuk bertobat. dan ketika dia bertobat, Yesus akan memeluknya dengan erat, dan berkata: "Nak, aku telah mati bagimu, dan Aku tidak akan membuangmu seperti dunia membuangmu. Tetapi jika engkau tidak bertobat sampai engkau mati, tak ada lagi yang dapat Aku lakukan untuk menolongmu. Sekarang, kuatkanlah hatimu sebab Aku tetap mengasihimu..."

70 x 7 kali, demikianlah Yesus mengampuni anakNya yang jatuh ke dalam dosa yang sama, asalkan anak itu bertobat. Itu adalah uangkapan Tuhan yang berkata bahwa Ia akan terus menerus mengampuni, sepanjang orang itu bertobat. Jika Tuhan kita yang menjadi pihak yang dikhianati dapat mengampuni dia terus menerus, mengapa kita justru menghina dan menatap jijik saudara kita yang berdosa..??

Saudaraku. Hal lain yang ingin saya sampaikan di artikel ini ialah, bagaimana caranya anda dapat mengalahkan manusia lama anda. Banyak orang gagal mengalahkan godaan manusia lamanya karena ia memakai kekuatan sendiri. Orang begitu susah payah menghalau pikiran-pikiran dosa karena ia menghalaunya dengan kekuatan sendiri. Kita begitu susah payah mengampuni karena memakai kekuatan kita sendiri. Jadi ketika kita berhasil, kita merasa telah berprestasi luar biasa.

Saudaraku, ketika anda telah bertobat dan menerima Yesus, sesungguhnya pada anda telah ada Roh Kudus. Tapi anda tidak mengenalNya selama ini dan tidak tahu bagaimana cara kerjaNya. Akibatnya, anda percaya tidak percaya bahwa pada anda telah ada Roh Kudus.

Roh Kudus itu sungguh lemah lembut. Ia sangat peka dan sensitif. Ia tidak arogan. Ia tidak memaksakan kehendakNya. Bayangkanlah diri anda itu seumpama balon. Jiwa anda, yaitu seluruh kepribadian anda, adalah "kesing" (casing) dari roh anda. Dalam ruang yang terdapat dalam kesing jiwa tersebut tinggallah roh anda, yaitu sumber dari kekuatan rohani dan emosioal manusiawi anda. Kekuatan itu memancar keluar dengan mengikuti pola bentuk kesing anda, sehingga terbentuklah kepribadian yang unik dan berbeda dari orang lain. Ke dalam ruang roh tersebut pulalah Allah menempatkan RohNya, yaitu Roh Kudus, sebagai meterai yang menandakan anda milik Allah. Ketika roh anda mendominasi tekanan di dalam ruangan, maka Roh Kudus akan menahan diriNya. Ketika anda mempersilakan Roh Kudus untuk mendominasi ruangan, maka Ia akan bekerja mendampingi roh anda untuk menjalani hidup manusia anda. Roh andalah yang tetap mengambil keputusan, tetapi Ia akan memberi kekuatan baru, otoritas ilahi, nasehat-nasehat serta arahan-arahan yang kesemuanya itu mempermuliakan Kristus. Demikianlah anda hidup tetapi bukan anda lagi yang hidup, melainkan Yesus yang terdapat dalam anda. Dari kesing anda yang khas kepribadian anda tadi, akan memancarlah buah-buah Roh.

Bagaimana caranya anda boleh menyerahkan dominasi ruangan kepada Roh Kudus sehingga anda boleh bekerja bersama dalam persekutuan di bawah arahan Dia? Caranya ialah dengan berdoa, dengan sungguh-sungguh anda memberitahu Dia bahwa anda menyerahkan ruangan itu kepada dominasiNya. Dan Ia akan tahu apakah doa anda itu sungguh-sungguh atau hanya omong doang, sebab Roh itu ada di dalam diri anda sendiri.

Ketika Roh Kudus sedang bersekutu dengan roh anda, roh anda dapat tiba-tiba bergerak dan tekanannya membesar. Anda sedang mengalami pembesaran ego sebagai reaksi terhadap sesuatu yang terjadi diluar. Apa yang terjadi sehingga roh anda bereaksi? Misalnya anda sedang dipuji-puji oleh orang-orang. Atau, seseorang sedang memaki anda. Atau, seseorang sedang meludahi wajah anda. Atau, seseorang sedang berlagak seolah-olah lebih pandai dari anda. Atau, seseorang sedang mengajak anda berdebat mengenai teori-teori ekonomi yang tepat untuk negara anda atau mengenai persoalan-persoalan politik. Ketika anda sedang bersendau gurau dengan istri, atau teman, anda juga sedang mendominasi ruangan pada saat sekejap itu. Tetapi kalau anda telah terlatih untuk mengendalikan diri, anda akan tahu menit yang tepat untuk kembali menyerahkan ruangan kepada Roh Allah. Tetapi ingat pula, bahwa anda bisa saja berlama-lama menguasai ruangan kedirian anda itu, sebab memang roh andalah tuan rumah sejak semula, sedangkan Roh Kudus hanya tinggal semenjak anda bertobat dan terima Yesus. Ketika anda mendominasinya berlama-lama, itu bukan selalu berarti anda tengah berdosa, tetapi selalu berarti bahwa kekuatan yang akan memancar keluar adalah kekuatan diri anda sendiri, yang lemah dan penuh ego, sehingga ketika godaan datang, anda dapat kalah dan jatuh.

Tetapi tunduklah lebih lama kepada keinginan dan kepemimpinan Roh, maka anda akan kuat. Roh akan menegur anda dengan lembut ketika reaksi anda berlebihan menghadapi sebuah masalah. Sebagai Penasehat Ajaib, Ia akan menaruhkan isi hati Allah pada lidah anda letika anda sedang bekerja untuk Yesus,misalnya sedang menginjili seseorang. Ia juga dapat tiba-tiba mengingatkan anda pada ayat tertentu dari Alkitab, ketika anda membutuhkan pencerahan atas suatu pertanyaan. Ia juga akan mengerjakan pernyataan-pernyataan otoritas anda sebagai anak Allah, sehingga perkataan tersebut terwujud. Misalnya anda sedang memerintahkan kesembuhan terjadi dalam nama Yesus, atau sedang memberkati seseorang sesuai dengan perkataan-perkataan anda sendiri. Dalam keadaan bersekutu seperti inilah maka setiap perkataan anda sangat besar kuasanya.

Ketika anda telah mulai berbuat dosa, karena Ia adalah Kudus, maka Ia akan didukakan dan undur dari anda, atau bahkan keluar sama sekali dari anda. Jadi menjaga kehidupan tetap kudus adalah cara berikutnya untuk menjalin kerjasama dengan Roh Allah kita itu.

Gambaran balon kedirian seperti yang saya lukiskan di atas hanyalah sebuah analogi untuk melukiskan cara terjalinnya persekutuan kita dengan Roh Kudus. Jadi saya tidak sedang bercerita tentang bentuk fisiknya, tetapi menerangkan demikianlah cara kerjanya. Sama seperti para astronot sedang berlatih di ruangan hampa udara di dalam studio, hal itu hanyalah untuk menggambarkan cara kerja di ruang hampa yang sebanarnya di luar angkasa sana.

Tujuan saya bukanlah supaya anda tahu bentuk fisiknya, sebab bagaimanakah kita tahu bentuk fisik Roh Kudus dan roh manusia serta bentuk ruang kepribadian manusia? Jadi tujuan saya adalah agar anda tahu dan sadar bahwa anda adalah bait Roh Kudus dan bahwa anda hanya mampu mengalahkan segala kehendak daging dan godaan dosa dengan menundukkan diri pada Roh Kudus yang terdapat di dalam anda. Jangan sia-siakan Kekuatan Dasyat itu.

Berbahagialah dia yang berjalan dalam kekuatan TUHAN, sebab dia tidak akan terkalahkan.

Allah Memandang Kita Setiap Detik


Allah Memandang Kita Setiap Detik

Bao Panigoran
Pertama kali diterbitkan di facebook tanggal 12 Juli 2010
Ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi, melalui pertobatan kita (dan memberi diri dibabtis sebagai tanda pertobatan, sesuai perkataan Yesus sendiri di Injil Yohannes), seketika itu juga kita lahir baru. Kita tidak lagi menjadi manusia lama, tetapi telah menjadi ciptaan baru. Yang lama sudah berlalu, yang baru sudah datang! 


Mungkin kelahiran baru itu tidak atau belum terlihat secara fisik. Mungkin belum berbuah seketika itu juga. Tapi yang pasti, ketika kita menerima kematian Kristus dengan bertobat kepadaNya, seketika itu juga seluruh dosa kita disucikan oleh darah Yesus. Kita telah ditebusNya dari kematian. Kita yang semestinya harus menanggung seluruh dosa kita di neraka kelak, telah dimerdekakan oleh Dia, dan kepastian surga menjadi milik kita. Sekarang kita bukan lagi anak-anak terkutuk, tetapi telah dipulihkan sebagai anak-anak Allah. 



Sebagai anak-anak Allah, saudara bukan lagi berasal dari dunia ini. Saudara sebenarnya berasal dari surga. Di dunia roh, (banyak orang yang memiliki karunia penglihatan alam roh telah bersaksi, membuktikan kesaksian Alkitab), bahwa hanya ada dua jenis manusia di dunia ini. Pertama, orang-orang yang telanjang. Artinya meskipun di bumi dia memakai baju jas merek Channel atau Kenzo, dari surga, Allah dan malaikat-malaikat melihat orang-orang ini telanjang dan memalukan. Siapa mereka? Mereka adalah orang-orang yang menyangkal/menolak Yesus. Mereka memenuhi bumi dan jumlah mereka mayoritas disini. Kepada orang-orang ini, Allah sering tidak tahan dan memalingkan wajahNya, meski Ia tetap menyimpan kasih dan kerinduan kepada mereka. 



Golongan kedua, adalah orang-orang memakai jubah putih berkilau, bahkan bermahkota. Meskipun di bumi mereka miskin, bau atau terbuang seperti Lazarus, tapi dari surga, Allah dan malaikat-malaikatNya memandang orang ini berjubah bangsawan, jubah pangeran, yaitu jubahnya anak-anak Allah. Mereka tidak telanjang. Tetapi dari golongan kedua ini ada juga mereka-mereka yang jubahnya kotor, compang-camping, bahkan tak sedikit yang menanggalkan jubahnya sehingga ia kedapatan telanjang lagi. Anak Tuhan yang berjubah kotor atau compang-camping adalah mereka yang cinta Yesus, atau tepatnya masih merasa sebagai anak Tuhan, tetapi masih asik dengan r upa-rupa kedagingan dan nafsu duniawi. Mereka disebut juga kristen KTP. sedangkan Alkitab menyebutnya ranting yang tidak berbuah. Kelak jika orang-orang ini mati, mereka akan ditolak dan diusir dari pesta perjamuan Anak Domba Allah dan dilemparkan ke neraka, senasib dengan mereka yang telanjang. Mereka yang menanggalkan jubahnya kembali adalah orang-orang yang mengaku kristen, tetapi hidup dalam perdukunan; juga mereka yang dahulu kristen, tapi berbalik menjadi penghujat atau penyangkal-penyangkal Kristus, baik sebagai ateis, ataupun penganut agama-agama buatan Si Penipu Besar. Orang-orang inipun akan bernasib sama dengan mereka yang telanjang. 



Saudara, setitik dosa dapat mengotori jubah kita. Maka jika engkau hari ini berbuat dosa, segeralah mencuci jubahmu kembali. Dengan apa? Dengan meminta ampunan Tuhan, sebelum terlambat. Yesus mengasihimu, dan ia tidak akan menyesali pengorbananNya bagimu. Saat engkau datang padaNya dan menangis di kakinya, seperti kisah anak yang hilang itu, saat itu juga Ia akan mengampunimu. 



Pemazmur berkata, mata Allah tertuju pada orang-orang benar, pada anak-anakNya, kita. Jadi terimalah dengan kesadaranmu yang tertinggi: bahwa Allah memandangmu setiap detik. Tidak ada satu hal pun yang terjadi padamu tidak diketahui Allah. Semuanya terjadi di depan mata Allah. Hidupmu berlangsung did epan mata Allah. Semua perkataanmu, yang remeh-remeh maupun yang serius-serius, terdengar ke telinga Allah. Ia menontonmu setiap detik, bersama-sama dengan tua-tua malaikat sorga, yang mengelilingi tahta Allah. Ketika engkau bergossip, Dia dengar. Ketika engkau memujiNya, Dia dengar. Ketika engkau berkata kasar, bersungut-sungut, memaki, bersumpah serapah, Dia dengar. Ketika engkau punya masalah, dan seorang kawan bercerita nun disana ada dukun yang bisa menolongmu, dan di kamar tidurmu kau mulai gelisah dan agak-agak berminat pergi kesana, Allah melihatmu dan tahu apa yang ada di hatimu itu. Ketika kau berkelahi dengan saudaramu, Allah melihatnya. Dan segala sesuatu yang terjadi padamu, yang kau alami, yang kau pikirkan, yang kau tulis di kertas bahkan difesbuk, bahkan sekedar yang terlintas dalam angan-anganmu, semua Bapa tahu, Bapa lihat, Bapa dengar. Sungguh saudara, tak satu detikpun Bapa berpaling darimu. Tak ada tempat bagi kita menyembunyikan diri dari muka Allah. 



Lalu apakah Bapa bereaksi atas segala tindakan kita? Inilah yang mau saya sampaikan juga: Bapa SELALU BEREAKSI atas apa yang engkau kerjakan. Ia bukan patung yang diam. Ia Bapa yang HIDUP. Ketika engkau bersungut-sungut, berkata kasar, berkelahi, mengutuk, memaki, bergossip dan sebagainya, Ia malu. Ia muak. Ia tidak suka sekali. Ia kecewa. DadaNya sesak. Berkali-kali Ia menghela nafas berat, menyabar-nyabarkan diriNya. Ia sedih. 



Tapi ketika engkau dilihatnya berdoa, membaca AlkitabNya, memuji-mujiNya dengan nyanyianmu, baik diibadah, di mobil, bahkan di dapur sambil masak sekalipun, Ia bangga, Ia gembira, Ia bahagia. Tahukah engkau? Nanyian pujian kita adalah seperti dupa yang harum di hadapanNya. Setiap kali engkau menaikkan pujian padaNya, sebenarnya engkau sedang menyebarkan aroma yang harum di sekitar tahta Allah, dan Allah serta malaikat2 dapat mencium aroma itu. (Jadi mengapa kita mengharumi kamar tidur kita saja dengan pengharum ruangan seperti bayfresh? Mengapa kita tidak mengharumkan juga Ruang Maha Kudus Bapa di surga dengan pujian kita?) 



Saudara, Allah terus memandangmu dan memandangmu. Ketika engkau membuatNya demikan sukacita oleh puji-pujian dan tindakan-tindakanmu, Ia akan semakin sayang padamu. Tahukah engkau doa itu seperti apa di hadapan Bapa kita? Ia seperti ini: engkau sedang duduk di kursimu dengan tenang, mengawasi anakmu, si kecil, buah hatimu itu, sedang main-main boneka. Engkau berjaga-jaga jangan sampai kepalanya terantuk ke tembok, jangan sampai masuk ke bawah meja, jangan sampai mendekati kabel listrik dan jangan sampai diganggu si manis, kucing itu. Saat itu, tiba-tiba ia mendekatimu merangkak sambil berkata dengan mata berbinar: "mama...mama... (atau: papa..papa..), dan ia memeluk kakimu. Apa yang kau rasakan? Bukankah dadamu berbuncah oleh cinta yang semakin hebat? Bangga dan haru pada anakmu itu? Jangan-jangan engkau akan kembali menggendongnya dan memeluknya erat-erat. Itulah suasana roh ketika engkau berdoa dan berkata; "Bapa..Bapa..." Dada Allah akan membuncah oleh rasa cinta yang menghebat kepadamu, bahkan mataNya akan membasah oleh rasa bangga dan haru. Ia akan memelukmu dan memebelai kepalamu dan berkata: "AnakKu...anakKu.." 



Saudara, ini saya katakan dengan sungguh: kalau engkau hendak merasakan belaian Allah lebih sering di kepalamu, seringlah engkau berdoa kepadaNya; "Bapa...Bapa.." dan Ia akan memeluk dan menggendongmu selalu. Sebab begitu besar kasih Allah akan dunia ini. Tak terukur kasih Bapa atasmu, dalamnya, tingginya, lebarnya...... 

Hidup Sebagai Anak Allah



Hidup Sebagai Anak Allah

Oleh : Bao Panigoran
Pertama kali diterbitkan di facebook tanggal 5 Juli 2010
Kita sudah terbiasa menyebut diri sebagai anak-anak Allah. Istilah anak Allah, atau anak Tuhan, bahkan adalah istilah sehari-hari kita untuk menyebut saudara kita kristen, khususnya orang kristen yang taat. Memang hal itu benar, sebab Alkitablah yang bersaksi bahwa kita anak Allah, bukan karena pengakuan diri sendiri. 


Kita menjadi anak Allah bukan karena kebaikan kita, bukan karena kita begitu mulia di dunia ini, bukan karena kita tokoh penting, bukan karena kita orang kaya atau golongan-golongan berpengaruh dalam dunia sehari-hari. Kita menjadi anak Allah karena kasih karunia. Sebab setiap orang, besar kecil, miskin kaya, mulia jelata, yang menerima karya penebusan Yesus Kristus di kayu salib, seketika itu dikuduskan dan resmi menjadi anak Allah. Secara fisik hal itu tidak terlihat, tapi secara roh, ketika kita bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi, nama kita seketika didaftarkan di surga, terdaftar, sebagai anak Allah, milik Allah, warga Kerajaan Allah. 



Tidak ada cara yang bisa ditempuh manusia untuk mendaftarkan dirinya di surga selain menerima kasih karunia Kristus yang ditawarkan secara gratis di kayu salib. Orang-orang dunia berusaha hidup baik, saleh menjalankan agamanya, taat sembahyang, puasa, dan lain-lain, tapi mereka tidak akan pernah bisa mendaftarkan diri di Buku Kehidupan Surgawi, sebab buku itu ada di tangan Yesus Kristus. Surga terlalu sakral dan kudus sehingga dapat digapai oleh upaya-upaya manusia yang kerdil ini. Tetapi barangsiapa menerima Yesus, Yesus pun menerima dia dan menuliskan namanya di bukuNya dan di surga ia resmi disebut anak Allah. 



Persoalannya, hai engkau anak-anak Allah, apakah kita sudah hidup sebagai anak Allah? 



Allah ialah Dia yang menciptakan dan memiliki segala sesuatu di dalam Yesus Kristus, tidak ada yang seperti Dia dan siapakah yang sanggup berdiri di hadapanNya? Malaikat gemetar oleh hadiratNya, lutut kita goyah bahkan begitu banyak yang ambruk ketika hadiratNya kita rasakan, iblis menggigil, loyo dan lemas ketika merasakan hadiratNya! Siapa lagi yang mampu bertahan di hadapanNya yang maha berwibawa itu? Dan anda, --bisakah anda bayangkan?-- adalah anakNya! 



Anak? Anak yang bagaimana kita ini sebenarnya? Banyak orang tidak mampu merasakan dampak dari julukan itu. Seolah-olah julukan itu terlalu biasa dan tidak memiliki makna apa-apa. Mereka mengiranya hanya kiasan, hanya istilah sastra, gaya bahasa, dan sejenisnya. Tetapi seluruh Alkitab menyatakan dengan pasti bahwa kita adalah anak dalam arti yang SEBENAR-BENARNYA. Anda BENAR-BENAR anak Allah.Jika seorang bapak memiliki tanah, sudah pasti anaknyalah yang menjadi ahli warisnya. Bapa kita, Allah Yang Maha Tinggi, adalah pemilik surga dan bumi ini, dan anda BENAR-BENAR adalah ahli waris atas surga dan bumi ini!! 



Mengapa banyak dari antara kita tidak bisa merasakan dampak dari gelar itu? Faktor penyebabnya ada beberapa. Salah satunya, kita terlalu lama diperhamba oleh dunia, sehingga mental kita masih mental gembel. Anda adalah pangeran, tapi disusui, dididik dan dibesarkan oleh keluarga pengemis di pinggiran kota. Ketika anda kembali ke istana, sudah pasti watak kerdil anda terbawa-bawa. Anda hanya bisa pulih apabila anda mau berubah, berubah dalam cara berpikir, cara merasa, cara merespon segala sesuatu. Jika tidak, anda akan tetap menjadi pangeran yang mentalitasnya gembel jalanan. 



Bayangkanlah anda anak Presiden yang berkuasa sekarang. Bagaimanakah anda akan hidup? Fasilitas apakah yang anda peroleh? 



Seorang anak presiden memdapat fasilitas puluhan pengawal Paspampres. Jadi kemanapun ia pergi, ia tidak perlu takut, sebab ada puluhan pengawal yang berjaga-jaga untuk keselamatannya. Sebagai anak Allah, mengapa anda terlalu takut akan bahaya? Tidak tahukah anda bahwa anda dikawal oleh malaikat-malaikat Allah? 



Boleh jadi suatu hari anak presiden melakukan kesalahan atau mengalami masalah. Mungkin ia telah menabrak gerobak seorang pedagang, dan orang-orang kampung yang tidak mengenalnya menuntut ganti rugi, dan kebetulan ia tidak membawa uang. Tapi tentu saja ia dengan mudah bisa menelpon bapaknya di istana untuk melapor dan minta tolong. Boleh saja bapaknya akan bilang: "Kamu sih, sudah bapak bilang jangan jauh2 dari pengawal2, karena mrk itu membawa hadirat bapak, tapi kamu ini bandel. Sudah bapak larang jangan ugal-ugalan di jalan, tapi masih saja berontak!" Tapi sudah jelas sang presiden akan mengirimkan petolongan eksklusif bagi anaknya itu. Dan anaknya boleh beljar dari pengalaman itu. tapi apapun, ia tentu tidak akan kawatir, sebab bapaknya siap menolongnya setiap saat. 
Sebagai anak Allah, mengapa anda begitu kawatir dan putus asa ketika ditimpa sebuah masalah? Bukankah anda dengan mudah, tanpa sensor, dapat langsung "menelepon" Bapa kita di surga? 



Presiden mungkin membekali anaknya dengan uang kantong harian sejumlah tertentu, setiap hari. Jadi ia tidak akan pernah ragu bila harus menyumbangkan seluruh uang kantongnya hari itu pada seseorang yang membutuhkan, karena sudah pasti besok ia mendapat uang kantong lagi. Sebagai anak Allah, mengapa anda hanya berani memberi uang receh seolah-olah anda adalah anak dari seorang tukang becak yang kembang kempis? 



Jika anak presiden merasa terganggu oleh pengamen-pengamen yang begitu berisik di sekitar meja makannya, ia mudah berkata: "Hei, enyahlah dari sini sekarang juga!" Ujarannya itu adalah perintah bagi pengawal-pengawalnya, dan tentu mereka akan bertindak menghalau para pengamen itu. Sebagai anak Allah, mengapa anda tidak menyadari otoritas anda dalam mengusir setan dan sakit penyakit? Mengapa anda mengahrdik dengan menggigil atau sangsi dan ragu-ragu? Bukankah Allah sudah berkata: apa yang kau ikat di bumi, terikat di sorga? Bukankah itu kepastian bahwa setiap ucapan anda, sebagai anak Allah, adalah perintah bagi pasukan-pasukan surgawi? 



Anak presiden sadar bahwa setiap tindakannya bisa mendatangkan aib bagi bapaknya. Mengapa anda tidak mengendalikan diri dan tindakan-tindakan anda seolah anda adalah anak dari seseorang yang tidak berharga diri? 



Anak presiden akan menjauhi pergaulan yang cemar, cabul, hitam, agar bapaknya tidak malu. Sebagai anak Allah, mengapa anda masih mempertahankan pergaulan dengan dunia sejenis itu? 



Anak presiden sadar bahwa ia harus selalu ramah, menahan lidah dari kata-kata sembrono, menjaga dirinya dari canda-canda porno, menjaga mulutnya dari kebiasaan bersungut-sungut, agar dengan demikian, orang-orang memuji bapaknya dengan berkata: "memang dia ini pantas menjadi anak Presiden, dan Presiden berhasil mendidiknya!" Sebagai anak Allah, mengapa anda gemar berbicara serapah, sembrono, cabul, mudah marah, dan mudah bersungut-sungut seolah-olah anda ini anak dari seorang preman terminal? 



Saudara dalam Kristus. Mari kita mulai menghayati hidup sebagai anak Allah. Mungkin dulu kita dibesarkan oleh jalanan, terpisah dari istana di surga mulia darimana kita berasal, tapi sekarang kita sudah kembali kesana sebagai pangeran dan putri bagi Allah. 



Jangan lihat keadaan bendawi kita sekarang. Jangan memandang dirimu hina karena keadaan duniawimu. Kita ini anak sungguhan Allah, dan kita mewarisi segala kebaikan yang dimiliki Bapa kita. Jangan memandang dirimu sebagaimana dunia ini memandangmu. Tapi lihatlah dirimu sebagaimana Bapa memandang dirimu, sebab itulah yang nyata dan benar. 



Mari berpikir sebagamana seharusnya anak Raja segala raja berpikir. Mari merasa sebagaimana anak Presiden segala presiden merasa. Mari merespon segala sesuatu sebagaimana mestinya anak Allah merespon. Mari mulai berbicara sebagaimana mestinya anak Allah berbicara. Sadarilah fasilitas-fasilitas kita sebagai anak Allah, dan sadarilah juga otoritas-otoritas settiap ucapan kita. Dan anda akan merasakan kemenangan demi kemenangan dalam hidup maupun pelayananmu. 



Jesus menyertai kita, sekarang dan selamanya!