Jumat, 14 Desember 2012

CARA IBLIS MENYESATKAN KITA





CARA IBLIS MENYESATKAN KITA

Saudara-saudaraku kekasih di dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus...

Artikel ini mungkin cukup panjang, tapi sangat perlu bagi kita. Simpanlah di komputer saudara bila belum punya waktu membacanya saat ini. Sila
kan anda bagikan pada yang lain bila anda terbeban, bahkan bila anda ingin memprint untuk keperluan anda sendiri atau untuk dibagi-bagikan kepada saudara terdekat, silakan saja.

Tulisan saya kali ini bersifat peringatan agar hati-hati, agar waspada terhadap kelicikan musuh kita si penipu. Jadi sebenarnya tulisan ini lebih saya tujukan kepada rekan-rekan saya, para hamba Tuhan, para pengkhotbah, para pembimbing rohani, para konselor, khususnya para pengajar yang akhir-akhir ini banyak sekali menulis di facebook dan keseluruhan internet, entah di blog sendiri, entah di situs-situs umum.

Kita sedang berdiri di akhir zaman, dan di zaman akhir ini, penyesatan telah dan semakin merajalela. Iblis tetap bekerja bahkan semakin gencar di masa-masa penghabisan ini. Tidak ada gereja yang kebal dari kemungkinan dimasuki penyesatan. Semua dapat dijangkau dan diracuni.

Hadirat iblis memang lari dari ibadah kita, ketika seluruh jemaat bersehati mengusirnya dengan iman yang sungguh. Tapi penyesatan adalah anak panah iblis yang menempel dan menyatu di pikiran manusia. Ke pertemuan ibadah manapun manusia itu pergi, kesesatan itu tidak akan ikut lari. Sebab kesesatan menempel di dalam sistem keyakinan manusia. Cara satu-satunya menyembuhkan kesesatan adalah bila kebenaran Yesus Kristus disuntikkan ke pikirannya. Awalnya akan terjadi polemik di pikirannya, mana yang benar mana yang salah. Tapi ketika ia mengasihi Allah, serta bergumul di dalam doa dengan penyangkalan diri, mencari wajah Tuhan untuk meminta kebenaran, Roh akan memberitahu kepadanya kebenaran-Nya. Tepat pada waktunya, ia akan bertobat.

Dari manakah datangnya penyesatan? Ia berasal dari roh-roh penipu yang bekerja aktif di alam roh, dan disebarluaskan kepada jemaat melalui khotbah atau ajaran-ajaran. Jadi ketahulilah, penyesatan bekerja dari mimbar, dari depan, bukan dari kursi belakang.

Hamba-hamba Tuhan adalah golongan yang paling diincar iblis untuk program penyesatan. Ini sehubungan dengan kapasitas wibawa dan pengaruh luas yang ada pada mereka. Semakin besar pengaruh seorang hamba Tuhan, sebenarnya ia semakin diminati kerajaan penyesat.

Jadi besarnya ukuran gereja dan popularitas si pendeta tidak boleh kita jadikan patokan untuk memastikan apa pun. Kebal tidaknya seorang pengajar dari kesesatan tidak tergantung kepada jumlah jemaat, popularitas atau megahnya gereja, tapi kepada ada tidaknya pintu yang terbuka bagi iblis untuk masuk ke pikirannya.

Iblis berani datang dan mencoba menipu daya siapa saja. Jangankan hamba-hamba Tuhan yang terkenal ke seluruh dunia, bahkan kepada Yesus sendiripun iblis berani datang dan mencoba menipu-Nya. Ini fakta pertama yang harus kita ketahui, sehingga kita semua bisa mengambil sikap yang benar.

Dari fakta pertama yang kita singkapkan itu, inilah pesan-pesan yang hendak saya bagikan: kepada jemaat, berdoalah untuk gembala sidangmu, para pengkhotbah, para pemimpinmu di kelompok-kelompok kecil yang anda ikuti, bahkan juga untuk para pengajar yang buku atau tulisan-tulisannya anda baca. Jujur, saya sangat berharap ada kiranya di antara pembaca yang membawa saya dalam doanya. Jangan berhenti menopang para hamba Tuhan dengan doa-doamu. Bukan hanya di ruang ibadah di depan telinganya, tetapi terlebih di kamar doa pribadimu di rumah. Berdoalah bagi mereka untuk pengurapan Tuhan, penyertaan dan penopangan Roh, agar kepada mereka semakin disingkapkan pewahyuan-pewahyuan dari Allah, dan agar mereka terhindar dari pengajaran-pengajaran yang salah.

Juga janganlah kita mengultuskan hamba Tuhan manapun. Anda harus memiliki pemahaman yang jelas perbedaan antara menghormati dengan mengultuskan.

Khusus mengenai pengultusan ini, dari apa yang saya amati di lapangan, lebih banyak digerakkan oleh lapisan kedua atau ketiga kepemimpinan, atau yang umumnya dinamai pelayan-pelayan gereja. Sering kali gembala sidang sebenarnya seorang yang rendah hati, tetapi pelayan-pelayan pembantu yang ada di bawahnya, sering kali terjebak menjadi seorang yang bersikap penjilat, supaya nampak dekat dengan atas, yang ketika berhadapan dengan kumpulan kecil, secara tidak sadar, mendorongkan gejala pengultusan ini. Sedikit-sedikit, mereka berkata: “Kata Pak Gembala... Perintah Pak Gembala... Pak Gembala bilang...”.

Saudaraku, itu mengintimidasi jemaat, membuat mereka gagal menjadi imamat yang rajani, terjebak kepada roh yang ketergantungan pada wibawa manusia. Bahkan seringkali cara-cara seperti itu menghalangi Roh Kudus sendiri. Anda tahu, Roh Kudus dapat berbicara lewat siapa saja tanpa pandang jabatan dalam kumpulan. Ketika anda –sebagai pelayan jemaat di pertemuan itu- membantah suatu pewahyuan ilahi hanya karena statusnya jemaat biasa dengan jurus: “Pak Gembala bilang...”, anda berpotensi menyeret domba-domba awam yang hadir disitu untuk terpisah dari Gembala Agung mereka, Yesus Kristus.

Maka kita semua, pelayan-pelayan di gereja, harus menjalin hubungan langsung dengan Tuhan. Meskipun kita menerima gaji dari gereja misalnya, tetap Tuan kita satu-satunya adalah Yesus. Tuhanlah satu-satunya yang kita kultuskan. Nama Yesuslah satu-satunya yang kita nyatakan dan banggakan. Jadi ketika seorang jemaat awam bertanya sesuatu kepada kita, kita jangan lagi berkata: “Pak Gembala bilang...”, tapi harus berkata: “Tuhan Yesus bilang...” atau “Alkitab berkata...”, sekalipun anda pada awalnya memperoleh hikmat jawaban itu dari khotbah Pak Gembala. Kenapa? Sebab Pak Gembala sendiri memperolehnya dari Tuhan Yesus, dan dia sama saja dengan kita, seorang hamba.

Saya juga menyarankan kepada para pemimpin supaya tidak terlalu mudah mengangkat seseorang menjadi pelayan jemaat. Selain telah memiliki hubungan pribadi yang intim dengan Yesus, ia juga haruslah memiliki hati seorang hamba, yang rendah hati, lemah lembut dan tidak menganggap dirinya lebih utama dari jemaat yang diasuhnya. Jika seseorang masih berwatak mencari pengakuan identitas, memiliki kebanggaan diri yang besar, lebih baik jangan dulu dijadikan pelayan apalagi pelayan penting. Orang-orang seperti itu mudah diperdaya pikiran kedagingan dan roh-roh penyesat.

Tahukah anda? Sepanjang sejarah gereja, dari yang terdahulu sampai yang terbaru, kesesatan selalu dimulai ketika gembala sidang telah dikultuskan. Pengultusan akan membuat jemaat tidak berani menguji ajaran gembala sidang sekalipun di dasar hatinya. Ia merasa berdosa untuk meragukan khotbah gembalanya. Dan ketika suatu hari, si gembala mengajarkan sesuatu yang salah, diterimalah kesalahan itu sebagai “sabda yang kudus dari Allah.” Dalam waktu cepat, tersesatlah gereja itu dari pusat sampai cabang-cabangnya.

Saudara...

Jangan takut untuk menguji setiap ajaran dari siapapun. Itu perintah Tuhan, dan dinyatakan pula oleh rasul-rasul. Yesus berkata: supaya kita tidak disesatkan oleh siapapun. Jadi bila anda mendengar ajaran-ajaran yang masih asing bagi anda selama ini, atau nubuat-nubuat, ujilah semua itu.

Menguji ajaran bukanlah bentuk dari penghakiman atau tidak menghormati, melainkan wujud dari kewaspadaan kita. Anda tahu, kelak setiap orang akan menghadapi Pengadilan Allah sendiri-sendiri. Anda tidak dapat dibenarkan karena alasan: “TUHAN, kalaupun aku sesat begitu, itu karena aku menghormati hamba-Mu dan tidak berani menguji khotbahnya”. Sudah terlalu banyak orang kristen mati sia-sia di dalam neraka karena terseret oleh kesesatan pemimpinnya. Mereka adalah orang buta yang dituntun orang buta, yang keduanya akan jatuh ke dalam jurang maut.

Firman Tuhan berkata:

Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. (I Tesalonika 5 : 21)

Jawab Yesus kepada mereka: "Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!”
(Matius 24 : 4).

Tetapi juga jagalah jangan sampai anda, dengan alasan menguji, lalu jatuh ke dalam dosa menggosip atau mengata-ngatai hamba Tuhan di belakangnya, atau menghakiminya tanpa kebenaran apa-apa. Menguji suatu ajaran adalah dengan merenungkan Alkitab, menggumulinya dalam doa, dan bila dirasa penting, mintailah pendapat hamba-hamba Tuhan lainnya yang dapat anda percayai kematangan rohani serta memiliki pengurapan Roh Tuhan. Jika anda sungguh-sungguh mencari hikmat Tuhan, Dia yang menghendaki anda untuk tidak disesatkan oleh siapapun, tepat pada saatnya akan menyingkapkan kepada anda.

Jadi betapa perlunya anda bertumbuh di dalam pengenalan dan penguasaan firman Tuhan supaya anda tidak mudah diombang-ambingkan rupa-rupa pengajaran. Sejak sekarang, anda harus banyak membaca Alkitab. Alkitab anda harus terlihat makin lama makin kucel, karena sering-sering dibaca dan distabilo.

Kita juga harus memiliki pergaulan yang intim dengan Tuhan melalui kehidupan doamu. Jangan berdoa seperti mengguman kepada diri sendiri, tapi berbicaralah kepada Tuhan yang mendengar. Bangun kesadaranmu bahwa Yesus hadir, mengenalmu dan mengasihimu, meski mata anda tidak bisa melihat-Nya.

Sekedar berbagi pengalaman, saya sering kali harus menangis bercucur air mata dengan berlutut di hadapan Yesus di kamar doa saya, ketika saya bergumul menguji suatu pengajaran yang asing di telinga, atau suatu yang disebut-sebut nubuat atau pewahyuan dari Tuhan. Bahkan sampai hari ini, saya masih memiliki beban pergumulan tentang beberapa ajaran, yang tidak perlu saya ungkapnya disini.

Ketika anda merasa asing, jangan langsung dakwa ajaran atau nubuatan itu sesat, kecuali anda sudah memiliki kematangan dalam hikmat Roh Kudus. Ujilah dahulu. Gumulkanlah dahulu, bila penting dengan berpuasa, sampai anda menperoleh pernyataan Tuhan. Pecayalah, Tuhan kita adalah Tuhan yang berbicara. Jika ternyata sesat, tolaklah, tetapi jika itu kebenaran dari Tuhan, terimalah sebagai berkat rohani.

Dan untuk saudara-saudara para hamba Tuhan, kita semua harus senantiasa menyangkal diri di hadapan firman Allah. Jangan biarkan kebanggaan ego memasuki hatimu. Jangan berprilaku seperti bangsawan-bangsawan di hadapan rakyat jelata. Bersikaplah sebagai saudara, sahabat dan teladan bagi mereka, bukan sebagai kultus yang harus ditakuti. Janganlah intimidasi jemaatmu dengan rupa-rupa ketakutan untuk menguji ajaranmu. Beranilah untuk diuji, sebab Allah kita sendiri berani untuk diuji. Jangan biarkan mereka mencium tanganmu seperti mereka mencium tangan seorang dewa, melainkan kita harus tetap melayani dengan merendahkan diri, yang sanggup membasuh kaki mereka, seperti teladan yang Tuhan ajarkan. Penuhlah oleh kasih dan belas kasihan.

Di kamar doa pribadi, kita harus tetap berlutut, merendahkan diri di hadapan takhta Bapa. Paling tidak, itulah yang saya lakukan terus menerus, bahkan sering kali saya sampai telungkup tiarap di hadapan-Nya, menangis tersedu-sedu seperti anak kecil. Dan hal terkuat yang selalu saya peroleh dari bimbingan Roh-Nya yang lembut, ialah bahwa Ia sangat mengasihi kita serta Ia mengharapkan kita taat kepada-Nya.Kasih-Nya dan ketaatan kita, itulah yang Ia ajarkan di hati saya. Dan itulah inti dari segala tulisan saya yang pernah saya bagikan kepada anda. Dengan iman, kita mempercayai kasih karunia-Nya. Dan dengan kerelaan membayar harga, kita menuruti semua firman-Nya.

Saudara...

Tujuan iblis adalah untuk memisahkan kita dari Bapa. Tetapi banyak saudara kita tidak percaya bahwa iblis dapat menerkam mereka. Mereka menerima suatu pengajaran yang salah, yang berkata: sekali bertobat, selamanya selamat. Dengan doktrin sesat yang dinamai Antinomianisme ini, mereka menjadi sangat tidak hati-hati serta sanggup melanggar rupa-rupa firman Tuhan tanpa merasa bersalah sama sekali. Mereka jatuh ke dalam jurang kenyamanan, menjadi kaum yang dinamai Tuhan sebagai “Jemaat Laodikia.”

Paulus memang membuat suatu pernyataan tegas di dalam Roma 8 : 31-35. “Jika Allah ada di pihak kita, siapakah yang menjadi lawan kita? Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?” Ini menjadi salah satu kutipan yang paling sering diambil, secara sembarang. Tetapi mereka tidak mengerti bahkan tidak mau tahu, siapakah yang Paulus maksudkan dengan “kita” di dalam pernyataannya itu. Untuk mengetahuinya, kita harus melihat ke ayat-ayat awal dari pasal tersebut. Saya kutip Roma 8 : 8, 13, 14 dan 17 :

8. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. 13. Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.
14. Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah
17. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.

Jadi orang-orang kristen yang hidup dalam daging, atau yang jalan hidupnya menentang firman Allah, tidak termasuk sebagai “kita” dalam pernyataan Paulus di atas. Dengan kata lain, dosa akan membuat kita terpisah dari Allah. Dan inilah peluang bagi iblis untuk merampas kita dari Bapa, yaitu jika ia dapat membuat kita jatuh dalam dosa.

Ketika seorang anak Allah telah tercemar oleh dosa, iblis juga akan mendakwa dan membuatnya terintimidasi, sehingga dia merasa tertolak oleh Allah. Ia merasa tidak diterima untuk kembali, gersang dan hampa, tiada pengharapan. Bahkan sering pula musuh mendakwa kita untuk dosa-dosa kita di masa lalu, yang telah pernah kita selesaikan di hadapan Tuhan.

Saya harus membuat pemahamannya jelas. Ketika kita tercemar oleh dosa, kita memang terpisah dari hadirat Allah. Tetapi terpisah berbeda dengan dibuang. Keterpisahan itu bukan oleh penolakan Allah, tetapi karena kesalahan langkah kita sendiriSebaliknya Bapa memanggil kita untuk kembali dan Ia ingin memeluk kita.

Pernahkah anda melihat seorang anak yang terpisah dari ibunya di mall karena anak itu terlalu larut dengan keasikan di kiri kanannya, sehingga ia tidak fokus mengikuti langkah ibunya? Itulah yang disebut terpisah. Keadaan itu terjadi bukan karena si ibu membuang atau menolak anaknya, tapi karena anaknya melangkah ke arah yang lain. Lalu apa yang akan dilakukan si ibu tersebut? Bukankah ia akan mencari anaknya kesana kemari sampai ketemu? Dan jika sudah ketemu, apakah yang akan dilakukannya? Membuangnya ke dalam api atau memeluknya erat-erat? Demikianlah apa yang saya maksud terpisah dari Tuhan, usaha-usaha apa yang akan Tuhan lakukan untuk memanggil kita kembali, dan jika kita sudah kembali, apa pula yang akan Ia lakukan atas kita.

Tapi ingatlah teguh di dalam hatimu hikmat Roh ini, bukan Tuhan pengikut kita, kitalah pengikut Tuhan. Jadi kebenaran Tuhan yang berlaku, bukan kebenaran pendapat kita sendiri.

Saudara...

Selain mendakwa, membuat kita kehilangan keberanian menyapa Bapa di dalam kasih mesra, iblis juga memiliki banyak jurus yang lain. Terhadap anak-anak Tuhan yang imengejar ketaatan dan kekudusan, iblis punya jurus yaitu menjerumuskan mereka kepada pikiran-pikiran legalisme, sehingga mereka justru menyangkal kasih karunia, dan mengira keselamatan adalah buah dari ketaatan mereka. Tetapi jurus tertua yang pernah dipakainya memperdaya manusia, khususnya anak-anak Tuhan yang percaya kepada kasih karunia Allah, adalah membuat kita merasa benar untuk berbuat dosa.

Hari-hari ini, begitu banyak anak-anak Tuhan yang berdiri sebagai pengajar-pengajar firman, telah berubah menjadi penyesat, kebanyakan tanpa mereka sadari. Iblislah yang menipu mereka, dan setelah mereka tertipu, mereka mengajarkannya kepada jemaat, atau pembaca-pembaca mereka. Demikianlah roh penyesat itu bekerja di tengah-tengah umat pilihan Allah, dan karena ketidakwaspadaan, banyak di antara kita sesungguhnya telah jatuh tanpa disadari.

Saya pernah membaca sebuah tulisan seorang teolog, yang sepertinya cukup berwibawa di suatu area pendidikan teologia, mengenai makan darah.

Dengan terang, Perjanjian Baru melarang kita makan darah (baca Kis. 15: 29). Tapi ahli teologia ini, telah menjadikannya boleh-boleh saja. Dia mengubahnya dengan argumentasi-argumentasi kurang lebih seperti ini:

- Kita selamat karena kasih karunia oleh iman, bukan oleh perbuatan. Dijelaskan panjang lebar, dicantumkan ayatnya.
- Kerajaan Allah bukan soal makanan dan minuman. Dijelaskan panjang lebar, dicantumkan ayatnya.
- Apa yang masuk ke dalam mulut, masuk ke dalam jamban. Dijelaskan panjang lebar, dicantumkan ayatnya.
- Tidak ada yang haram. Dijelaskan panjang lebar, dicantumkan ayatnya.
- Taurat tidak menyelamatkan. Dijelaskan panjang lebar, dicantumkan ayatnya.
- Kasih Allah tidak berkesudahan. Dijelaskan panjang lebar, dicantumkan ayatnya.
- Kita sudah diampuni oleh salib kematian Kristus. Dijelaskan panjang lebar, dicantumkan ayatnya.
- Dengan lidah kita mengaku, dengan hati percaya, maka kita diselamatkan. Dijelaskan panjang lebar, dicantumkan ayatnya.
- Dan sebagainya.

Berdasarkan semua argumentasi beserta kutipan-kutipan ayat yang sangat banyak tersebut, maka dibuatnyalah kesimpulannya: makan darah itu sebenarnya diperbolehkan Tuhan.....

Hal yang sama, misalnya, saya temukan berkali-kali di internet mengenai larangan menikah lagi bagi yang bercerai. Dengan tegas Yesus Kristus telah berkata: “Orang cerai tidak boleh menikah lagi” (baca Lukas 16 : 19 dan I Korintus 7 : 11), tetapi oleh para sarjana teologia tersebut, telah berubah menjadi: “Orang cerai boleh menikah lagi.” Cara mereka mengubahnya sama seperti di atas.

- Allah menciptakan manusia itu berpasangan. Dijelaskan panjang lebar apa artinya berpasangan, dicantumkan ayatnya.
- Pernikahan itu dikehendaki Allah. Dijelaskan panjang lebar, disebutkan apa resikonya jika menghambat kehendak Allah, dicantumkan ayatnya.
- Allah tahu umumnya manusia tidak tahan bertarak, dan Dia tidak menghendaki terjadinya percabulan. Dijelaskan panjang lebar, dicantumkan ayatnya.
- Allah menghendaki manusia itu beranak cucu. Dijelaskan bagaimana caranya beranak cucu, dicantumkan ayatnya.
- Kita selamat karena kasih karunia oleh iman. Dijelaskan apa itu kasih karunia, dijelaskan apa iman, dicantumkan ayatnya.
- Keselamatan bukan hasil perbuatan. Dijelaskan panjang lebar, dicantumkan ayatnya.
- Kasih Allah tak terukur dalamnya. Dijelaskan panjang lebar, dicantumkan ayatnya.
- Allah melihat hati. Djelaskan panjang lebar, dicantumkan ayatnya. Dsb.

Dan melalui semua alasan-alasan Alkitabiah tersebut, diajarkanlah kesimpulannya: “Orang cerai sebenarnya boleh menikah lagi.” Dan lebih jauh, orang yang melarang diserangnya sebagai orang-orang Farisi, penganut-penganut Taurat, penyangkal-penyangkal kasih karunia.

Demikianlah apa yang tegas-tegas dilarang Tuhan, telah berubah maknanya menjadi diperbolehkan Tuhan, di tangan para sarjana teologia yang sesat ini, sehingga Allah menjadi terlihat seperti pembohong. Dan ketika ajaran mereka disampaikan kepada jemaat-jemaat awam yang polos lugu, ditopang oleh wibawa dan karisma yang besar, dengan cepat jemaat tersebut ditelan oleh kesesatan itu.

Saudaraku...

Lihatlah bagaimana penyesatan demi penyesatan itu masuk ke dalam gereja kita di seluruh permukaan bumi ini. Mereka menjadikan banyak sekali ayat-ayat Alkitab untuk menyerang dan mematikan satu ayat Alkitab.

Demikianlah di tangan para pengajar yang sudah sesat ini, aborsi menjadi boleh; korupsi menjadi boleh; berdoa, berkomunikasi atau minta tolong kepada orang mati menjadi boleh –termasuk kepada Bunda Maria atau orang-orang kudus atau roh-roh leluhur--; beribadah kepada Allah melalui patung menjadi boleh; berobat ke dukun atau yang disebut ‘alternatif’ menjadi boleh; cinta uang menjadi boleh bahkan dikehendaki Allah; bersaksi dusta di pengadilan sekuler menjadi boleh; kecanduan rokok dibenarkan; bercerai menjadi boleh; hidup bersama tanpa menikah (kumpul kebo) dibenarkan; pakai benda-benda okultis ataupun kecakapan sihir menjadi boleh; menikah sesama jenis sah-sah saja bahkan boleh diberkati gereja; membunuh dapat dibenarkan; bahkan berhubungan seks di luar ikatan pernikahan boleh-boleh saja, dan begitu banyak lagi kesesatan lainnya.

Untuk semua itu, masing-masing ada argumentasi pembelaannya, dengan memakai ayat-ayat Alkitab. Tetapi yang paling banyak dijadikan alasan adalah ajaran kasih karunia. Kasih karunia Allah telah dijadikan sebagai bahan untuk mengaretkan semua firman Allah yang sifatnya melarang atau memerintahkan, menurut kebutuhan mereka. Hal yang paling sering mereka katakan ialah: “Pilihlah mana yang paling baik menurutmu, kasih karunia Tuhan bersamamu.” Dengan nasehat ini, mereka membebaskan semua jemaat dari Hukum Tuhan. Firman telah menjadi karet, yang boleh ya, boleh tidak.

Fenomena itu sudah dinubuatkan dan diperingatkan Rasul Petrus dua ribu tahun lalu.

II Petrus 3 : 17
Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, kamu telah mengetahui hal ini sebelumnya. Karena itu waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh.

Saudaraku dalam kasih Yesus...

Tahukah anda? Cara seperti itulah persis yang iblis pakai untuk menipu Adam dan Hawa, maupun untuk mencobai Yesus Kristus.

Kejadian 3 : 4-5
Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”

Lihatlah argumentasi iblis di atas. Pada dasarnya iblis sedang berkata: “Allah sangat mengasihimu, Ia penuh pengampunan, Ia tidak akan menghukummu, dan Ia tidak sesederhana yang Ia katakan itu, tetapi ada rahasia-rahasia yang tersembunyi yang tidak kau tahu...” Saya percaya, seandainya saat itu Alkitab sudah ada, iblis akan mengutip begitu banyak ayat, agar Hawa dan Adam percaya kepadanya. Dengan bertamengkan kasih karunia Allah yang memang demikian besar, iblis telah berhasil membuat Adam dan Hawa berani melanggar firman.

Kita melihat contoh yang lebih jelas ketika iblis mencoba menipu daya Yesus di padang gurun.

Matius 4 : 5-6
Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah lalu berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.”

Yesus tahu argumentasi iblis tersebut memang terdapat di dalam Alkitab (lihat Mazmur 91).

Tetapi berbeda dengan Adam-Hawa yang tidak menyangkal kehendak-kehendak dirinya sehingga mereka tertipu, Yesus menyangkal diri-Nya dan tetap teguh pada ketaatan-Nya, sehingga Ia menang.

Saudara...

Betapa kita harus senantiasa taat kepada firman-Nya. Sekalipun ayat-ayat argumentasi tersebut benar dari Alkitab, tetapi jika semua itu dipakai untuk mematikan satu ayat tertentu, hati-hatilah, berarti ada pikiran-pikiran iblis si penipu disana. Sebab firman Allah tidak pernah bertentangan satu sama lain.

Mari saudaraku, pengajar-pengajar firman Tuhan, mari menelanjangi tipu daya si iblis, musuh kita. Jangan pernah membiarkan dirimu menjadi saluran bagi roh yang terkutuk itu untuk melakukan penyesatan massal. Kenakanlah terus ikat pinggang kebenaran, dan tangkis pikiran-pikirannya dengan perisai iman, serta lawan dia dengan pedang Roh, yaitu firman Tuhan. Berpeganglah terus pada iman bahwa setiap firman itu “ya” dan “amen”. Ya artinya kita tidak akan membuat bantahan, atau membuat pengertian yang lain, atau menyatakan hal yang sebaliknya. Amen artinya kita tunduk dan melakukannya, apapun harga yang harus kita bayar.

Bila ada di antara kita pernah tertipu oleh iblis dan mengajarkan suatu pengertian yang sebaliknya di masa lalu, entah melalui khotbah entah tulisan, jangan terlalu tertekan perasaan. Kasih karunia Yesus masih ada bagi kita. Mari kita datang kepada-Nya dan mengakui semua kesalahan, dan Ia pasti mengampuni kita.

Juga, bila kita melihat seorang saudara kita tersesat oleh ajaran yang salah, jangalah anda jadi membencinya. Ingatlah selalu, dia hanyalah korban dari musuh kita. musuh kita adalah iblis, yang telah menipu banyak saudara kita sejak semula. Jadi kepada sahabat kita itu, kita harus tetap mengasihi serta berusaha untuk menyadarkannya kembali.

Kasih itu menegur pada saatnya, tetapi juga mengampuni di sisi lainnya. Jangan menjatuhkan penghukuman, tetapi serahkanlah kepada Allah saja. Biarkan Tuhan berperkara, sebab Allah memiliki hubungan pribadi dengan semua anak-anak-Nya. Allah memberikan kesempatan kepada semua orang termasuk kita, untuk bisa menyadari kesalahan dan bertobat. Itu artinya, anda juga harus menyediakan pengampunan di dalam kasih. Justru anda harus berdoa bagi saudaramu itu mencucurkan air mata.

Kasih haruslah dasar dari segala sesuatu yang kita kerjakan didalam Tuhan, entah itu menghibur, ataukah menegur. Tanpa kasih yang mendalam, teguran anda mungkin adalah sebuah serangan penghakiman. Ingatlah, penghakiman itu juga sebuah dosa.

Seperti saya katakan, suatu kesesatan ialah anak panah musuh yang menyatu dalam pikiran, menjadi bagian dari sistem kepercayaan orang itu, dan cara menyembuhkannya hanyalah dengan menyuntikkan kebenaran Kristus ke pikirannya, dan inilah tujuan dari sebuah peneguran di dalam firman.

Memang seseorang yang terlanjur percaya pada suatu ajaran yang salah, tidak dapat begitu mudah menerima kebenaran itu. Akan ada polemik di pikirannya, akan ada pergumulan di dalam doa jika ia seorang yang rendah hati. Tetapi juga sering kali ia akan menyemburkan serangan kepada orang yang menyuntikkan kebenaran itu. Serangan inilah yang disebut salib. Ia bisa jadi sebuah tuduhan, kemarahan, intimidasi, amukan, makian, bahkan pula aniaya fisik termasuk kematian. Ada salib di dalam mengikut kebenaran Tuhan, dan kita tidak boleh takut menanggungnya.

Saya sendiri harus berbenturan dengan banyak teman terkasih yang menganut kesalahan. Bahkan salah seorang sahabat saya sendiri, yang sekian lama saling berbagi firman dan dorongan semangat di facebook ini, telah meninggalkan dan memblokir saya. Saya telah diblokir banyak teman karena mengajarkan kebenaran yang kebetulan membentur keyakinan teologis mereka yang salah. Ah, sesungguhnya saya sudah cukup banyak menerima caci maki, kata-kata pedas, serangan-serangan, bahkan tuduhan-tuduhan jahat khususnya melalui email / pesan, dari teman-teman kristen yang semula bersahabat dengan saya di facebook, karena kebenaran Firman. Itu karena kebenaran yang saya bagikan berbeda dengan kesalahan yang selama ini ia anut. Orang-orang tidak siap menerima teguran firman. Mereka tidak siap keyakinan mereka yang salah diuji kembali. Bahkan mereka sendiri mungkin tidak pernah menguji dengan sungguh-sungguh apa yang mereka pegang itu. Mereka hanya menginginkan khotbah-khotbah yang nyaman di hati dan enak di telinga. Tetapi kita bukanlah pembicara menurut pesanan manusia, melainkan berbicara seturut dengan beban yang Tuhan taruh di hati.

Hanya, ingatlah selalu bahwa kebenaran itu anda ketahui bukan untuk anda pakai mempermalukan saudaramu di muka umum. Yesus mengasihi orang-orang berdosa, dan untuk itulah Ia datang ke bumi, memanggil mereka datang kepada terang-Nya. Kesesatan hanyalah salah satu dosa, dan siapakah di antara kita yang tidak pernah berbuat dosa? Kasih itu mengampuni. Kasih itu memberi waktu. Kasih itu bersabar di dalam pengharapan.

Akan tetapi sekalipun demikian, anda haruslah tetap berpegang kepada kebenaran Kristus. Jangan karena perasaan sungkan pada manusia, anda merahasiakan kebenaran dan menerima kesalahan. Sebagai hamba bagi Allah kita, kita harus terus menyatakan kebenaran-Nya, meskipun hal itu barangkali bertolak belakang dengan ajaran yang dianut mayoritas teman kita sendiri. Mungkin anda akan dikucilkan dari kumpulan karena berpegang teguh pada kebenaran. Tetapi mengikut Tuhan membutuhkan keberanian untuk menerima aniaya.

Demikian pula kepada kita jemaat-jemaat biasa, yang hari ini masih dibelenggu oleh pengajaran-pengajaran yang salah, yang mempraktekkan hal-hal yang bertentangan dengan firman, mari kita datang kepada Yesus Kristus dan mengakui segala kesalahan. Ia pasti mengampuni kita, dan kita memulai kehidupan baru yang mengasihi, mempercayai, dan menaati Dia dengan segenap kekuatan kita.

Juga harus saya nyatakan disini, sekalipun di atas saya menyebut-nyebut teologia atau sarjana teologia, saya tidak bermaksud semua sarjana teologia seperti itu. Banyak hamba-hamba Tuhan di Indonesia ini, bahkan di seluruh dunia, besar atau kecil, adalah pahlawan-pahlawan mengagumkan dari Kerajaan Bapa kita. Mereka juga, sebagian besarnya, berlatar belakang sarjana teologia.

Jadi mohon anda tidak menjadi salah menangkap maksud tulisan saya ini, sebab saya tidak sedang berbicara mengenai sarjana atau bukan sarjana apapun, melainkan supaya kita semua waspada terhadap bahaya penyesatan yang sekarang sedang melanda gereja di seluruh dunia.

Ya, inilah akhir zaman. Yesus akan segera datang kembali, itu juga berarti Antikristus akan lebih dulu muncul mengusung Tatanan Dunia Baru-nya. Tanda-tandanya sudah semakin banyak dan terbuka di depan mata. Dunia dan segala hal yang kita miliki di dalamnya akan segera berlalu. Jadi mengapa kita terlalu merisaukan serta menghabiskan terlalu banyak waktu dan pikiran untuk semua itu? Mari senantiasa berjaga-jaga di dalam roh, membersihkan diri dari segala kesalahan dan dosa, serta bertekun di dalam pergaulan intim dengan Kristus.

Akhirnya, kenalilah setiap ajaran dari tujuannya. Bukan dari banyaknya ayat Alkitab yang dikutip atau sesaknya istilah-istilah bahasa Ibrani atau Yunani yang dipakai supaya terlihat gagah tak terbantahkan.

Roh Tuhan selalu mengajar kita menjadi pelaku atau penurut-penurut firman. Tetapi iblis menghasut kita untuk menjadi pelanggar-pelanggar firman, apapun caranya, termasuk dengan menyamar sebagai domba, dimana ia membungkus tujuan gelapnya dengan banyak ayat Alkitab yang seolah-olah membenarkannya.

Kasih-Nya dan ketaatan kita, itulah yang membuktikan bahwa antara Dia dan kita terikat dalam hubungan Bapa dan anak, yang tidak akan terpisahkan.

Dan lagi, Ia yang telah menyediakan pengampunan untuk kita oleh kematian-Nya di kayu salib, tidak akan menyembunyikan pengampunan-Nya itu ketika kita datang mengakui setiap kesalahan dihadapan-Nya.

Kasih Bapa dan kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus menyertai kita sekalian, oleh Roh Kudus-Nya.

Amen.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar